SEKALI LAGI, RUMAH: Refleksi Atas Sketsa Tentang “Rumah”

Refleksi seperti jembatan yang menghubungkan antara peristiwa dengan pengalaman.

B. Herry Priyono

Beberapa waktu lalu, saya melihat katalog pameran sketsa dengan tema rumah. Lebih tepatnya, tentang rumah di masa pandemi. Masing-masing partisipan menggambarkan sudut-sudut rumah yang menurut mereka paling berkesan atau yang membuat mereka bertahan dari kejenuhan selama pandemi membumi. Ada kamar tidur, ruang kerja, ruang keluarga, dapur sampai halaman rumah. Nyaman, bebas berekpresi, tenang dan teduh adalah kesan-kesan yang mau disampaikan. Saya lalu bertanya-tanya, bagaimana kira-kira imaji kita tentang rumah di hadapan pandemi? Alih-alih menjadi terapi energi sehabis kelelahan di luar, kini rumah menjadi pusat dari segala macam aktivitas. Berbagai aktivitas mulai dari bekerja, belajar, beribadah, bersantai sampai tempat bersembuyi dari ancaman virus yang tak reda-reda. Pameran sketsa tentang rumah yang diselenggarakan oleh Deskov IKJ beberapa waktu lalu seolah mengajak saya untuk bercakap-cakap soal relasi saya dengan rumah. Rumah macam apa yang tubuh saya alami sepanjang pandemi?

Dari jalan-jalan virtual itu, saya melihat rekaman tubuh atas rumah yang mereka tinggali. Sejauh mana tubuh kerasan di rumah saja, tetap berdenyut yang menandai kehidupan terus berlanjut. Masing-masing partisipan dengan jelas memberi jejak yang berbeda-beda. Banyak yang meresponnya dengan duduk di meja kerja, menuangkan segala isi kepala lewat gambar maupun tulisan. Ada yang menyadari “kadang” komunikasi keluarga membutuhkan perangkat penghibur, seperti TV dan sejenisnya (karya Rasuardie, Sekitaran Rumah). Ada pula yang menunjukkan keterikatan dengan peralatan rumah tangga, seperti dalam karya Dio Bowo, Cangkir Jago. Saya mungkin lebih senang menamai pameran ini “Tetap Bergerak”, yang dilawankan pada situasi yang memaksa tubuh untuk berdiam di rumah.  Setidaknya, terdapat dua gambar yang menganggu saya. Gambar pertama berjudul ”Little Friend” karya Maulana Saputra dan “Quarantine Self Portrait” karya E. Natania Andina.

“Little Friend” merujuk pada aktivitas selama dirumahkan yakni, merawat tanaman.  Maulana menggambarkan sebuah tanaman yang diletakkan di kamar tidurnya. Merawat tanaman dianggap sebagai resep bertahan dari kebosanan. Tentu saja, tidak hanya Maulana, saya pun melakukan hal serupa. Pada halaman media sosial saya beberapa waktu lalu, juga mendadak dibanjiri kegiatan tanam-menanam, ada orang yang tiba-tiba jatuh cinta dengan tanaman dan memanfaatkan bagian rumahnya untuk ditanami berbagai jenis tumbuh-tumbuhan. Rupanya, ada kerinduan untuk bersenyawa dengan alam, mendambakan suasana yang hijau-hijau, suatu keadaan di mana orang-orang bisa bernafas lega. Yang menarik, disaat bersamaan kita justru dihadapkan pada kenyataan tidak bebas pergi kemana-mana, merasa tidak aman berada di ruang publik, susahnya mencari pekerjaan dan kematian seorang siswa yang diduga tidak tahan belajar tatap layar. Angka pasien corona semakin tinggi sedangkan pemerintah dinilai “terlalu berhati-hati”. Mungkin seperti Maulana yang menganggap tanaman itu sebagai teman, kita pun butuh terapi agar mampu bertahan.

Kalau “Little Friend” adalah soal saya dan sekitarnya, “Quarantine Self Portrait” adalah antara saya dengan saya yang ada dicermin. E. Natania Andina menggambarkan seorang perempuan yang lagi menatap ke cermin. Yang membuat saya betah berlama-lama di hadapan gambar ini yakni, ada emosi yang mau ditumpahkan. Bila yang lain coba memperlihatkan sisi kenyamanan dari apa yang kita bayangkan sebagai rumah, gambar ini justru berkata lain, ingin keluar dari koridor tersebut, lebih tepatnya tidak ingin didikte oleh hafalan yang ada di kepala kita. Bahwa imaji tentang rumah tidak selalu yang nyaman-nyaman saja. Ada banyak kejadian yang bisa terekam, ada kelaparan, ada tangisan, ada pertengkaran, bahkan ada pemerkosaan. Selama pandemi, mungkin banyak kejadian tidak mengenakkan terjadi, seperti kehilangan orang yang dikasihi, beban mental saat terisolasi atau berjuang demi mengisi periuk nasi. Pose ini seolah menuntut saya untuk membongkar rekam memori yang saya alami selama pandemi, seperti seseorang yang sedang ditanyai.

Diterbitkan oleh vinarete

bercita-cita menulis buku fiksi

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.