Dirumahkan: Sebuah Pengalaman

Agar benar-benar mencintai hidup, kita pun harus digugat dan dibuat putus asa oleh kehidupan.

Albert Camus

Tahun 2020 tinggal hitungan hari, aktivitas saya masih berjalan seperti awal Maret ketika Pemerintah menerapkan pembatasan sosial untuk pertama kalinya. Jurus kunci bertahan di tengah pandemi (cuci tangan, jaga jarak dan pakai masker) masih rutin saya lakukan. Bahkan satu persatu orang di sekitar saya mendapat jatah isolasi mandiri. Saya bersama keluarga juga pernah mengalami itu tepat dilibur Lebaran. Duduk di depan layar menjadi satu-satunya cara kami terkoneksi dengan dunia luar.

Pandemi memang belum selesai dan beberapa hari lalu mencapai rekor baru per hari. Sosialisasi agar memakai masker semakin memekak telinga, tidak hanya di luar tetapi ada pula yang memakainya di dalam rumah. Ketakutan menulari dan ditulari merasuk sampai ke alam bawah sadar. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari yang pertama kali dipandang mata adalah masker, bukan perkara baju, warna kulit, apalagi afiliasi politik. Seolah-olah masker menjadi penanda dari pola hidup sehat (sesuai standar WHO) dan sebaliknya orang yang tidak menggunakan masker siap-siap mendapatkan sangsi. Penggunaan masker di masa pandemi memang tidak dapat ditolak tetapi masker hanya salah satu bagian dari protokol kesehatan.

Pengalaman saya dirumahkan dan memakai masker bukan yang pertama kalinya. Tahun 1997-1998 pernah terjadi kebakaran hebat di Sumatera dan Kalimantan. Sejarah mencatat itu adalah peristiwa kebakaran hutan terparah yang pernah terjadi. Musim kemarau kala itu disebabkan rendahnya curah hujan sehingga terjadi kekeringan disejumlah tempat di Indonesia. Kondisi ini kemudian diperparah oleh keserakahan umat manusia dalam mengelola hutan. Bencana tak terhindarkan, Indonesia menjadi pusat perhatian negara-negara Asia Tenggara karena gagal mengatasi kabut asap. Kebakaran hutan tahun 1997 menyumbang setidaknya seperempat dari seluruh pencemaran yang ada di dunia, bernafas disatusamakan dengan menghisap dua puluh batang rokok. Selain menyebabkan kerugian negara triliunan rupiah, studi terkini menyebutkan dua puluh juta jiwa masih terganggu kesehatanya akibat kebakaran hutan tahun 1997. Data pun menyebutkan bahwa anak-anak yang lahir dari ibu yang terpapar kabut asap pada masa itu mengalami dampak kesehatan, seperti tinggi badan dan daya kognisi rendah.

Sumber Tirto.id

Saya duduk di bangku sekolah dasar saat kabut asap 1997-1998 terjadi. Sekolah kami termasuk yang diliburkan. Kami diminta untuk belajar mandiri di rumah. Tidak ada pembelajaran jarak jauh karena tidak ada alat yang mendukung, apalagi belum semua rumah dialiri listrik. Tidak ada pula pembimbing yang mengarahkan belajar apa dan bagaimana. Masing-masing anak mengatur sendiri kebutuhan belajarnya (kalau ingat) sesuai kemauan dan buku seadanya. Waktu itu saya lalui dengan membaca buku apa saja yang tersedia di rumah. Mungkin sebab itu, saya lebih tertarik bidang baca-bacaan dibandingkan hitung-hitungan. Selama belajar mandiri di rumah, orang tua sesekali menemani namun perhatian utama mereka adalah soal makanan apa yang dimakan anaknya. Terutama untuk keluarga petani yang kala itu mengalami kerugian akibat gagal panen. Lalu setahun kemudian (1998) diterjang badai krisis ekonomi.

Saat pemerintah memutuskan untuk belajar dari rumah, anak-anak di pedalaman kebingungan. Kebanyakan dari mereka tidak siap untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh. Jangankan punya telepon pintar, televisi saja belum tentu. Untung saja ada beberapa guru biasa tapi punya nyali luar biasa. Mereka inilah yang tetap mengajar dari rumah ke rumah. Para guru ini paham betul kondisi yang dihadapi murid-muridnya. Sementara yang membuat kebijakan justru baru sadar kalau tidak semua rumah dialiri listrik dan sinyal. Mengenaskan.  

Musim kemarau kala itu saya kehilangan waktu belajar dan bermain bersama teman-teman. Kabut asap yang tebal menyebabkan anak-anak mendekam di rumah. Di sisi lain, orang tua tetap bekerja dengan atau tanpa alat pelindung diri yang layak sementara korban gangguan pernapasan mulai berjatuhan. Pada masa sekarang pengalaman dirumahkan terjadi karena wabah yang sudah mengglobal. Situasi ini memang agak berbeda dengan situasi saat bencana kabut asap, akan tetapi  proses pembelajaran yang dialami anak-anak di pedalaman belum jauh berbeda dari yang saya alami dua puluh tiga tahun lalu.

Diterbitkan oleh vinarete

bercita-cita menulis buku fiksi

Ikuti Percakapan

2 Komentar

  1. Saya juga mengalami bagaimana kondisi kabut asap saat itu…
    Terima kasih Vina, tulisanmu melawan lupa, akan tragedi kelam dimasa lalu…. Terus lah menukis Inol. ❤️

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.