Menengok Kembali Hubungan Diri dan Mesin-mesin

Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, jadikan setiap orang sebagai guru.

Ki Hajar Dewantara

Ketika pertama kali ditawari menjadi fasilitator untuk kegiatan seminar yang digagas oleh ibu-ibu di desa Mayak, saya merasa terharu, bukan semata kesempatan yang telah diberikan tetapi ide soal mengadakan kegiatan seminar itu. Ibu-ibu di desa Mayak antusias belajar meski di tengah aktivitas padat mereka yang sebagian besar petani dan sekaligus Ibu rumah tangga. Disamping itu, saya merasa tertantang karena apa yang saya pelajari selama ini harus dikontekstualkan dengan latar belakang dan apa yang dihadapi mereka sehari-hari. Menyadari bahwa orang yang saya ajak berbicara terdiri dari berbagai usia, kebiasaan, tingkat pendidikan dan adapula yang sama sekali belum mengenyam bangku pendidikan, membebek mentah-mentah teori dari perguruan tinggi adalah usaha sia-sia.

Saya pernah menjadi narasumber dalam suatu seminar akademis, masing-masing punya tantangan. Namun, berbicara di tengah masyarakat membutuhkan energi ekstra. Bukan berarti saya akan berpendapat mengisi seminar akademis itu mudah, hanya saja orang-orang yang datang dalam seminar biasanya adalah mereka yang bergumul dalam kehidupan akademis, seperti mahasiswa, dosen, guru, praktisi, dan peneliti. Sementara berbicara di tengah masyarakat yang beragam, persoalannya tidak sekedar pakai teori apa tetapi lebih pokok bagaimana agar materi yang disampaikan dapat dipahami oleh semua kalangan.

Kalut marut yang saya rasakan semakin bertambah mengingat tema pertama yang disodorkan adalah “media dan teknologi”. Posisi saya kala itu harus berbicara soal perkembangan media dan teknologi di suatu desa yang belum dijajah jaringan internet. Harus menjelaskan suatu pengalaman yang belum tentu semua mengalami. Ketika saya tanyakan alasan pemilihan tema, seorang ibu menjelaskan bahwa tema itu hasil perenungan atas keluhan-keluhan karena tidak update dengan perkembangan anak-anak mereka hari ini. Mereka menyadari ada jarak antara orang tua dengan anak-anak muda. Jarak ini pula yang kemudian mau dibonsai lewat kegiatan seminar. Bahkan seorang ibu yang ikut nimbrung menjelaskan kalau anaknya terus merengek dan memilih tidak makan sampai orang tuanya mau membelikan telepon genggam.

Saya baru menyadari bahwa kebutuhan pengetahuan dari seminar itu adalah meninjau konsekuensi-konsekuensi yang dibawa dari perkembangan media dan teknologi, terutama membidik bagaimana sikap dan peran orang tua dalam menghadapi pertumbuhan anak-anak saat ini. Jujur saja, saya tidak berasal dari bidang Psikologi yang mumpuni membicarakan teori perkembangan anak. Namun, dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki dan sedikit modal pernah bekerja di sebuah perusahaan media (Bigdata), saya coba tarik benang merah antara apa yang saya miliki dengan kebutuhan pengetahuan. Esai dengan judul “memosisikan diri tengah perkembangan media dan teknologi” pun lahir. Suatu esai yang masih jauh dari sempurna. Di bawah ini saya lampirkan ringkasan dari esai tersebut.

Desa Mayak, 10 Maret 2019

Pertama-tama tulisan singkat ini bukanlah sebuah resep atau jurus jitu soal bagaimana harus hidup di tengah perkembangan media dan teknologi yang tinggal hitungan detik, melainkan sebagai bahan pertimbangan dalam melihat kembali hubungan kita dengan mesin-mesin.

Ketika pertama kali ditawari mengisi acara seminar yang digagas oleh ibu-ibu, saya teringat saat pengalaman bekerja di dunia media. Saya pernah bekerja sebagai media analis di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan data berbasis media; televisi, media massa dan media sosial seperti; Facebook, Instagram, dan Twitter. Data dari media sosial sering dipakai untuk melihat reaksi masyarakat terhadap suatu peristiwa yang sedang diberitakan. Reaksi itu apakah ke arah positif atau justru sebaliknya. Jadi, status-status Facebook dan media sosial lainnya bisa menjadi alat untuk mengukur reaksi dominan masyarakat atas suatu peristiwa.

Bagi sebagian orang, media sosial tidak lebih dari sekedar tong sampah (tempat kita membuang uneg-uneg, kekesalan, keluhan, sampai harapan) tetapi bagi perusahaan adalah sumber pendapatan. Bila petani memanen Jagung, Padi, Sawit, atau Sahang (Lada), bagi seorang media analis akan panen data, termasuk status Facebook, Twitter, dan Instagram. Dengan kata lain, semakin banyak kita berkomentar di media sosial, semakin banyak dan beragam pula data yang dimiliki oleh perusahaan. Oleh perusahaan data-data itu kemudian diperjualbelikan kepada klien-klien. Klien itu boleh jadi pemerintah pusat maupun daerah, perusahaan dan orang-orang yang berkepentingan dengan data media. Misalnya politisi saat musim kampanye tiba. Mereka perlu data untuk apa? Terutama untuk bisa “ngomong”. Mereka sadar betul kalau ngomong tidak pakai “data”, rentan dinilai sebagai penyebar cerita bohong, lebih parahnya lagi akan berakhir di jeruji. Akhir-akhir ini, kesadaran akan kebutuhan data kian bertumbuh, perusahan Bigdata pun bertambah subur. Data-data media berpeluang menjadi tulang punggung dalam obrolan kita sehari-hari.

Sebagian besar kita tentu memiliki TV. Pemberitaan di TV (media pada umumnya) itu tidak netral. Apa kata TV (media pada umumnya) bergantung atas kepentingan pemilik perusahaan itu sendiri. Paling mudah kita amati di musim kampanye. Pemberitaan di TV seperti terbagi ke dalam dua kubu. Pilihan politik para pemilik statsiun TV tampak tidak malu-malu lagi menunjukkan kecenderungan pemberitaan TV mereka pada salah satu calon presiden. Selain itu, lewat pengalaman menonton, kita berjumpa dengan iklan-iklan. Mulai dari iklan pembersih rambut sampai perawatan kaki. Iklan menawarkan gaya hidup tertentu agar kita tergoda untuk membeli, membeli, dan terus membeli. Iklan pertama-tama adalah soal menjual barang, tapi sadar atau tidak, ikut mendikte gaya hidup kita sehari-hari. Misalnya, wajah mu akan cerah merona bila memakai produk ini, tubuh mu bebas kuman bila memakai ini, atau otak anak mu akan cerdas bila minum susu ini, dan begitu pola seterusnya. Lewat penawaran tiada henti itu, iklan menciptakan standar-standar baru, yang kalau tidak hati-hati akan menyederhanakan pemikiran kita. Berbicara cerdas yang pertama-tama dilakukan adalah belajar bukan minum susu sapi. Realitas kabur semacam inilah yang harus kita sikapi.

Pernah pada suatu sore di sebuah warung, ada seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku SD datang bersama bapaknya. Anak itu merengek minta dibelikan minyak rambut, Pomade. Meski harga minyak rambut Pomade yang botolan itu lebih tinggi daripada harga se-kilogram beras, si bapak akhirnya membelikan Pomade demi anaknya. Kebetulan saya kenal betul keluarga sederhana ini sehingga berani mengatakan, “wah adik, kamu lebih takut dianggap ketinggalan zaman daripada kelaparan”. Ini baru soal rambut yang seringkali disepelekan, belum lagi soal pulsa dan kuota internet yang membuat pengeluaran membengkak. Menukik lebih dalam, kita hidup dengan segala konsekuensi yang dibawa oleh perkembangan media dan teknologi. Termasuk dalam soal penampilan sehari-hari, mungkin kita bisa tanyakan pada diri sendiri, jangan-jangan cara kita berpakaian, berdandan, sampai potongan rambut, boleh jadi hasil meniru artis idola atau model iklan di TV.

Telepon genggam (Smartphone) tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi (berkirim pesan semata) tetapi dengan alat itu orang bisa memperoleh informasi, mendapat uang (berjualan), mendapat pengikut, bermain game, sampai promosikan diri sendiri. Nikmatnya bermain media sosial diantaranya, orang dapat mengkondisikan apa saja yang ingin dilihat, didengar dan diketahui. Kalau di ruangan ini ada yang memiliki akun-akun media sosial, misalnya Facebook kita dapat amati seperti apa orang berlomba-lomba ingin terlihat; rupawan, kaya, berpengetahuan luas, religius dan seterusnya. Pendek kata, di media sosial orang bisa menjadi apa saja, yang kadang-kadang diikuti pula kebutuhan soal bagaimana orang ingin terlihat dan diakui oleh orang lain. Sekali lagi, nikmatnya bermain media sosial karena seolah-olah memampukan orang tunaikan kemauan yang belum tentu dapat ditunaikan dalam realitas kehidupan sehari-hari.

Lewat pengalaman di atas, kita diajak untuk melihat setidaknya seperti apa peran media dan teknologi dalam kehidupan kita sehari-hari. Media dan teknologi tidak hanya membentuk pandangan kita soal suatu peristiwa yang sedang terjadi, pelan-pelan tapi pasti mulai mengalihkan kelekatan kita dari lingkungan sekitar. Misalnya, orang yang mandi dan mencuci di sungai cenderung akan lebih memperhatikan kualitas air sungai, bahkan orang bisa kena hukum adat bila sengaja mengotori sungai. Namun, apa yang terjadi hari ini, kita mulai bergantung dengan mesin-mesin daripada alam.

Di kebun paling tidak orang membutuhkan radio atau mp3 sebagai hiburan di antara suara jangkrik dan burung. Sehari-hari kita pun lebih banyak mendengar orang mengeluh soal listrik padam daripada udara panas yang disebabkan menipisnya hutan lindung. Bila listrik padam, otomatis orang kesulitan memasak nasi, tidak dapat menonton atau mengecas HP/laptop. Orang lebih takut listrik padam, boleh jadi sudah tidak terbiasa harus mandi dan mencuci  di sungai (jangan-jangan kita memang sudah tidak punya sungai yang layak). Orang takut listrik padam karena tidak mendapatkan informasi dan hiburan yang mampu mengalihkan perhatiannya sejenak dari persoalan rumput di kebun, biaya sekolah anak, dan masalah rutinitas lainnya.

Saat ini, kita tidak dapat hidup tanpa media dan teknologi. Tidak pula kembali bernostalgia. Bila ada warga gereja, warga negara, cepat atau lambat kita akan beralih menjadi warga media dan teknologi. Salah satu keunggulan media dan teknologi adalah menawarkan pengalaman yang serba cepat. Seperti yang kita rasakan saat berkirim pesan atau telepon. Bahkan kita tidak butuh waktu yang lama untuk menghidupkan atau mengganti saluran TV. Seperti makanan siap saji, misalnya Indomie. Kita cukup memanaskan air dan memasukan mie, makanan pun siap disantap. Apa yang mau dilunturkan dari aktivitas memasak mie adalah prosesnya. Membuat proses sesingkat-singkatnya inilah yang menjadi jantung kerja media dan teknologi. Kita tidak perlu repot-repot dan menunggu waktu lama, bahkan kalau ada mesin pengasuh anak, mungkin akan laris dibeli oleh ibu-ibu rumah tangga. Kalau tidak hati-hati kondisi itu berpotensi membentuk mental asal tahu beres. Berapa banyak dari kita yang saat anaknya pulang dari sekolah akan bertanya, tadi dapat nilai berapa? Kalau anak mendapat nilai rendah kita langsung menghakimi anak itu bodoh tanpa terlebih dahulu mau tahu bagaimana proses mereka belajar. Atau saat pembagian rapot, biasanya para orang tua pertama kali akan menanyakan, dapat rangking berapa? Mengapa yang diutamakan adalah hasil? Bila sebagai orang tua kita lebih mementingkan hasil dibandingkan proses, jangan heran bila suatu hari anak kita akan menempuh jalan pintas (menyontek) demi memperoleh nilai yang tinggi. Bukankah jalan pintas semacam itu yang dilalui oleh seorang koruptor?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.