Guru-guru di Tapal Batas

“Apakah gunanya pendidikan bila hanya membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?”
WS . Rendra

Pengetahuan itu tidak netral. Menurut Apple (1993) teks-teks pembelajaran yang sampai ke tangan guru dan siswa di kelas tidak terlepas dari proses pemilihan yang dilakukan oleh penguasa. Apa yang dipelajari (ditanamkan dan dipelihara) lewat lembaga pendidikan dikemas agar tidak berseberangan dengan ideologi penguasa. Itu mengapa penting menelusuri wacana dalam lembaga pendidikan yang direproduksi terus menerus.

Tulisan sederhana ini masih terlalu dini untuk menyoroti pengajaran nasionalisme di lembaga pendidikan sebagai upaya pencarian model pendidikan yang kontekstual dengan kondisi masyarakat di perbatasan. Namun, sebagai pijakan awal, tulisan ini mau menggarisbawahi bahwa wacana nasionalisme yang kaku berpontesi membuat guru-guru di perbatasan tidak lebih dari sebuah robot yang tidak dapat berbicara atas nama pengalaman mereka. Celakanya lagi sistem pendidikan semacam itu hanya mampu menghasilkan alien-alien.

Berbicara tentang guru, tidak ada pengalaman yang lebih dekat dan lebih kongkret kecuali pengalaman bersentuhan dengan lembaga pendidikan. Saya menempuh S1 jurusan pendidikan sejarah disalah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Ketika itu dosen saya pernah mengatakan kalau guru sejarah harus menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada mitra didik. Ternyata pernyataan itu bukan sekedar angin lalu karena sering pula di kelas setiap mahasiswa diminta memetik apa yang sudah dipelajari ke dalam bentuk nilai-nilai seperti nasionalisme.

 Pernyataan dosen tersebut juga saya temukan dalam tulisan A. Daliman lewat tulisannya, Guru Sebagai Panutan Nilai: Suatu Studi Mengenai Peranan Guru Sejarah Sebagai Sumber Nilai-nilai Nasionalisme.[1] Bahwa tugas seorang guru sejarah termasuk mengurusi sikap-sikap mitra didik agar tidak menyimpang dari agenda nasional. Saat itu saya tidak dapat membayangkan kalau kalau harus mengajar sesuai amanat tersebut, semacam ada sekat-sekat yang membuat saya tidak dapat menerima begitu saja. Setelah kuliah S1, saya dilema teruskan karir menjadi guru sejarah.

  Pelajaran sejarah dalam kadar ini boleh jadi lahan basah untuk “melatih” bentuk nasionalisme resmi. Dengan kata lain, pelajaran sejarah menjadi bagian dari pembentukan identitas kolektif. Catherine Doherty (2004), menunjukkan tendensi pelajaran sejarah mengundang mitra didik untuk mengadopsi sebuah sudut pandang tertentu, mempromosikan identitas kolektif dan mencetak para calon nasionalis.

Mengapa tidak menjadi guru? Lowongan guru di daerah pasti masih terbuka lebar? Apa yang teman saya katakan itu memang demikian adanya. Kuantitas dan kualitas pendidikan di perbatasan masih memprihatinkan, tetapi pertanyaannya apakah saya akan mereproduksi materi yang asing dari persoalan masyarakat perbatasan? Pertanyaan ini kembali mengerutkan hati untuk menjadi guru. Namun, pertanyaan soal kenapa tidak menjadi guru terus menerus mengusik saya. Bahkan seorang teman menawarkan untuk menjadi guru di Jakarta, tawaran itu menyisakan pertanyaan kembali, apa yang saya alami tidak mereka alami dan begitu pula sebaliknya. Saya pernah mengajar di salah satu SMA swasta di Yogyakarta. Pengalaman mengajar itu mau tak mau saya lakukan sebagai kewajiban mahasiswa pendidikan. Selama tiga bulan saya harus berjarak dengan diri sendiri. Ada kekhawatiran bagaimana kalau mitra didik tahu soal kehidupan saya di kampung halaman. Bukankah realitas itu kemudian dapat menegasi apa yang saya ajarkan di kelas? Saya pun ingin cepat-cepat menyelesaikan misi di sekolah.

Karir menjadi guru sejarah waktu itu memposisikan saya sebagai alien di kampung sendiri dan di tempat lain. Pandangan tentang guru sejarah yang ikut mengurusi persoalan nasionalisme mitra didik benar-benar menjadikan saya seperti robot. Saya tidak dapat berbicara atas nama orang yang lahir dan tumbuh di perbatasan melainkan hanya membebek buku-buku teks.

 “Malay bukan, Indon setengah-setengah”. Identifikasi semacam ini sering digunakan untuk menjelaskan praktik hidup orang di perbatasan. Identifikasi yang kabur tentang orang di perbatasan memengaruhi kemudian bagaimana mereka harus dipandang, diposisikan dan diperlakukan. Yang sering terjadi justru mereka diperlakukan seolah-olah pantas dicurigai, dimatai-matai bahkan lahan basah dari proyek-proyek beragenda nasional. Kerangka nasionalisme yang kaku punya potensi mengkastrasi orang di perbatasan dari akar kehidupannya, tumpah dari kategori kita (Indonesia) tapi bukan pula mereka (Malaysia).

Setidaknya menurut Bauman (1998) terdapat dua tipe dari manusia di era modern cair yaitu, tourist dan vagabonds.“Vagabond is the alter ego of the tourist” (Bauman, 1998). Kedua tipe ini saling terkait satu sama lain. Menurut Bagus Laksana (2013) Vagabonds atau pengembara terus-menerus ingin menjadi orang asing dan tidak memiliki komitmen pada sesuatu yang stabil seperti rumah atau tanah air dengan kata lain, mereka tidak punya kesadaran untuk menjadi warga (citizen). Sedangkanpelancong atau tourist adalah mereka yang terobsesi dengan pengalaman baru. Meski lebih punya ikatan dengan rumah dan tanah air dibanding pengembara, tetapi perhatian mereka pada tempat-tempat lain, rumah dan tanah air sebagai safety package yang lebih untuk menyokong kebutuhan pribadi (keamanan).

Pengkategorian manusia modern al a Bauman di atas tidak serta merta dapat mengidentifikasi orang di perbatasan. Bauman mengakar pada masyarakat konsumsi yang serba instan dan individualistis. Tipe mental turis dan vagabonds dapat dipahami sebagai konsekuensi dari era modern cair, teritorial yang jelas batas-batasnya tidak otomatis mendefinisikan warga yang menempatinya. Mobilitas menggejala, area menjadi tempat pertemuan orang-orang asing yang tetap menjadi asing. Pertemuan tanpa masa lalu dan sering kali tanpa masa depan.

Praktik melintas batas orang di perbatasan seusia dengan batas teritorial. Sejarah praktik melintas batas bisa sama tuanya dengan sejarah berdirinya suatu negara bangsa. Salah satu ciri dari negara modern (Pierson, 1996) adalah teritorial yang jelas batas-batasnya. Kedaulatan berdasarkan teritorial. Teritorial adalah wilayah negara yang sudah didefinisi secara hukum, di mana batas-batas yang membedakan negara yang satu dengan negara yang lain jelas dan legal dimata hukum. Teritorial mengasumsikan persoalan ruang sudah selesai. Ruang dilihat secara hitam dan putih, legal dan illegal sebagaimana yang digambarkan oleh Wadley (2005) teritorialitas adalah kondisi di mana individu atau kelompok mengontrol orang-orang, relasi, dan menegaskan kembali kondisi geografisnya lewat batas-batas yang mereka cipta.

 Menurut Wadley (2005) batas teritorial yang dibayangkan antara komunitas lokal dengan negara berbeda. Batas yang dimaksudkan oleh masyarakat lokal biasanya batas-batas alam seperti, sungai, batu, dan hutan dan biasanya diperlakukan secara fleksibel sedangkan batas dalam bayangan negara itu tetap, kaku, seperti kartografi dan biasanya ada pengawasan militer. Batas-batas yang dibangun diandaikan mampu membatasi gerak warga, negara memiliki otoritas untuk mengawasi batas-batas teritorial, termasuk mengawasi orang-orang yang ulang-alik di perbatasan.

Perbatasan sepanjang 2.004 km antara Indonesia dengan Malaysia di pulau Borneo adalah rekaan kolonial Belanda-Inggris. Batas yang kita kenal saat ini tidak hadir secara alami melainkan melalui proses penyeleksian yang kental dengan campur tangan kepentingan kolonial. Batas-batas teritorial itu dikonstruksi dan menunjukkan obsesi penguasa; gambaran mental dari politisi, pengacara, dan intelektual. Pemerintah kolonial membangun batas untuk mengendalikan elemen-elemen yang dianggap undesirable (Eilenberg, 2012).

  Praktik melintas batas dalam gerak sejarah dianggap sebagai sesuatu yang tabu karena dapat menganggu pengawasan pemerintah kolonial. Begitu batas selesai didefinisi, warga dikutuk untuk hidup menetap. Di pihak lain, orang di perbatasan harus menanggung “dosa” sebagai konsekuensi atas rekaan batas teritorial versi kolonial. Masyarakat dayak Jagoi sebagai salah satu dari beberapa masyarakat lokal yang kini memiliki ikatan kultural melampaui batas teritorial. Praktik melintas batas dalam kadar ini tidak identik dengan kecenderungan memiliki loyalitas ganda apalagi berkewargaan ganda. Sejarah orang di perbatasan dapat ditempatkan sebagai sekumpulan orang-orang yang bertahan hidup dengan cara melintas batas. Suatu cara hidup yang hampir absen dari narasi besar manusia Indonesia dengan segala bentuk keberagamannya.

Referensi

Bagus Laksana. 2013. Manusia Tanpa Sekat: Inspirasi Driyarkara dan Tantangan Pendidikan Universitas dalam Dunia Serba Cair. Yogyarkarta. USD

Bauman, Zygmunt. 1998. Globalization: The Human Consequences. UK: Blackwell

————————. 2000. Liquid Modernity. UK: Blackwell

Eilenberg, Michael. 2012. At the Edges of State in the Indonesian Borderlands. Leiden: KITLV Press

Pierson, Christopher. 1996. The Modern State: Second Edition. London:Routledge

Jurnal

A.Daliman. Guru Sebagai Panutan Nilai: Suatu Studi Mengenai Peranan Guru Sejarah Sebagai Sumber Nilai-nilai Nasionalisme. Jurnal Kependidikan, nomor 1 tahun XXI Mei 1991.

Michael W. Apple. The Politics of Official Knowledge: Does a National Curriculum Make Sense? Teachers College Record Volume 95, Number 2, Winter 1993. Columbia University.

Doherty, Catherine. Re-imagining and re-imaging the nation through the history curriculum. In: Proceedings of : Changing climates : Education for sustainable futures, the Australian Association for Research in Education (AARE 2008) Conference, 30 November 4 December, 2008, Queensland University of Technology, Brisbane.


[1] A.Daliman. Guru Sebagai Panutan Nilai: Suatu Studi Mengenai Peranan Guru Sejarah Sebagai Sumber Nilai-nilai Nasionalisme. Jurnal Kependidikan, nomor 1 tahun XXI Mei 1991.

Diterbitkan oleh vinarete

bercita-cita menulis buku fiksi

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.