Imlek di Bengkayang

Aku bukan seorang Tionghoa, bukan pula pemerhati budaya Tionghoa. Ini sekedar pengalaman tumbuh di tengah masyarakat Tionghoa

image

(Tulisan ini dilatari situasi toko-toko di pasar Bengkayang yang sudah tutup sejak H-1 dan katanya akan normal kembali setelah Cap Go Meh. Setengah bulan Bengkayang akan menjadi kota lumpuh, mungkin mati? Mengantisipasi kondisi itu, orang-orang jauh hari sudah menumpuk sembako di rumahnya masing-masing. Termasuk yang aku lakukan dengan membeli kuota internet)

Perayaan Imlek kental dengan pesta kembang api dan lampion-lampion merah menyala yang menghiasi sepanjang jalan. Detik-detik pergantian tahun selalu ditandai dengan pemasangan kembang api sampai menjelang fajar. Malam itu kamu tidak akan benar-benar bisa tidur nyenyak, kecuali kamu adalah orang yang bodo amat. Sementara pagi harinya, penampakan sampah-sampah kembang api bertebaran di mana-mana namun panitia Imlek sepertinya sudah menyiapkan tim kebersihan selama perayaan Imlek dan Cap Go Meh.

image

Perayaan Imlek atau sering disebut Konyan terbuka untuk keluarga, teman, dan tetangga. Se-kembali mereka dari Tepekong (rumah ibadah) yang biasanya jam 08.00 pagi, mereka pun siap menyambut para tamu. Seperti halnya Lebaran atau Natal, mereka menyediakan kue dan minuman untuk menjamu para tamu, termasuk hidangan makanan dengan menu utama daging babi. Kalau ini rasanya kayak gawai dayak, karena bagi orang dayak belum sah gawai kalau belum menghidangkan makan besar dan itu berlaku disetiap rumah yang kita kunjungi.

image

image

Pengalaman Konyan yang ku rasakan di Bengkayang berbeda pula di Yogyakarta. Seperti pepatah “lain ladang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya”. Di Bengkayang, orang Tionghoa bebas mengekspresikan budayanya lewat berbagai upacara-upacara adat. Bahkan masih dijumpai orang-orang Tionghoa yang tidak biasa memakai bahasa Indonesia namun tidak menjadi persoalan serius apalagi politis. Semacam ada logika ruang yang terbentuk baik lewat pengalaman bersama dimasa lalu maupun kondisi geografis-sosial sehingga membedakan kedua tempat tersebut.

Membicarakan masa lalu orang Tionghoa di Bengkayang tidak jauh-jauh dari riwayat pertambangan emas. Bengkayang dikenal dengan bumi emas (dua desa di Bengkayang saat ini menggunakan nama Bumi Emas dan Mani Amas) karena tanahnya mengandung unsur emas. Emas kala itu menjadi mata pencarian orang Tionghoa. Wilayah Monterado (saat ini bagian dari Kabupaten Bengkayang) adalah saksi bisu dari pendirian kongsi dagang yang dikelola orang Tionghoa selama seabad namun kemudian luluh lantak oleh kolonial. Orang Tionghoa di Bengkayang kebanyakan berasal dari Singkawang. Bengkayang terletak di Selatan kota Singkawang dengan jarak tempuh yang kurang lebih dua jam. Sementara Singkawang yang dikenal dengan Chinatown juga bermula dari pertambangan emas sejak Sultan Sambas mengundang mereka bekerja di tambangnya dua abad yang lalu.

Diterbitkan oleh vinarete

bercita-cita menulis buku fiksi

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.