Menengok Kembali Hubungan Diri dan Mesin-mesin

Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, jadikan setiap orang sebagai guru.

Ki Hajar Dewantara

Ketika pertama kali ditawari menjadi fasilitator untuk kegiatan seminar yang digagas oleh ibu-ibu di desa Mayak, saya merasa terharu, bukan semata kesempatan yang telah diberikan tetapi ide soal mengadakan kegiatan seminar itu. Ibu-ibu di desa Mayak antusias belajar meski di tengah aktivitas padat mereka yang sebagian besar petani dan sekaligus Ibu rumah tangga. Disamping itu, saya merasa tertantang karena apa yang saya pelajari selama ini harus dikontekstualkan dengan latar belakang dan apa yang dihadapi mereka sehari-hari. Menyadari bahwa orang yang saya ajak berbicara terdiri dari berbagai usia, kebiasaan, tingkat pendidikan dan adapula yang sama sekali belum mengenyam bangku pendidikan, membebek mentah-mentah teori dari perguruan tinggi adalah usaha sia-sia.

Saya pernah menjadi narasumber dalam suatu seminar akademis, masing-masing punya tantangan. Namun, berbicara di tengah masyarakat membutuhkan energi ekstra. Bukan berarti saya akan berpendapat mengisi seminar akademis itu mudah, hanya saja orang-orang yang datang dalam seminar biasanya adalah mereka yang bergumul dalam kehidupan akademis, seperti mahasiswa, dosen, guru, praktisi, dan peneliti. Sementara berbicara di tengah masyarakat yang beragam, persoalannya tidak sekedar pakai teori apa tetapi lebih pokok bagaimana agar materi yang disampaikan dapat dipahami oleh semua kalangan.

Kalut marut yang saya rasakan semakin bertambah mengingat tema pertama yang disodorkan adalah “media dan teknologi”. Posisi saya kala itu harus berbicara soal perkembangan media dan teknologi di suatu desa yang belum dijajah jaringan internet. Harus menjelaskan suatu pengalaman yang belum tentu semua mengalami. Ketika saya tanyakan alasan pemilihan tema, seorang ibu menjelaskan bahwa tema itu hasil perenungan atas keluhan-keluhan karena tidak update dengan perkembangan anak-anak mereka hari ini. Mereka menyadari ada jarak antara orang tua dengan anak-anak muda. Jarak ini pula yang kemudian mau dibonsai lewat kegiatan seminar. Bahkan seorang ibu yang ikut nimbrung menjelaskan kalau anaknya terus merengek dan memilih tidak makan sampai orang tuanya mau membelikan telepon genggam.

Saya baru menyadari bahwa kebutuhan pengetahuan dari seminar itu adalah meninjau konsekuensi-konsekuensi yang dibawa dari perkembangan media dan teknologi, terutama membidik bagaimana sikap dan peran orang tua dalam menghadapi pertumbuhan anak-anak saat ini. Jujur saja, saya tidak berasal dari bidang Psikologi yang mumpuni membicarakan teori perkembangan anak. Namun, dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki dan sedikit modal pernah bekerja di sebuah perusahaan media (Bigdata), saya coba tarik benang merah antara apa yang saya miliki dengan kebutuhan pengetahuan. Esai dengan judul “memosisikan diri tengah perkembangan media dan teknologi” pun lahir. Suatu esai yang masih jauh dari sempurna. Di bawah ini saya lampirkan ringkasan dari esai tersebut.

Desa Mayak, 10 Maret 2019

Pertama-tama tulisan singkat ini bukanlah sebuah resep atau jurus jitu soal bagaimana harus hidup di tengah perkembangan media dan teknologi yang tinggal hitungan detik, melainkan sebagai bahan pertimbangan dalam melihat kembali hubungan kita dengan mesin-mesin.

Ketika pertama kali ditawari mengisi acara seminar yang digagas oleh ibu-ibu, saya teringat saat pengalaman bekerja di dunia media. Saya pernah bekerja sebagai media analis di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan data berbasis media; televisi, media massa dan media sosial seperti; Facebook, Instagram, dan Twitter. Data dari media sosial sering dipakai untuk melihat reaksi masyarakat terhadap suatu peristiwa yang sedang diberitakan. Reaksi itu apakah ke arah positif atau justru sebaliknya. Jadi, status-status Facebook dan media sosial lainnya bisa menjadi alat untuk mengukur reaksi dominan masyarakat atas suatu peristiwa.

Bagi sebagian orang, media sosial tidak lebih dari sekedar tong sampah (tempat kita membuang uneg-uneg, kekesalan, keluhan, sampai harapan) tetapi bagi perusahaan adalah sumber pendapatan. Bila petani memanen Jagung, Padi, Sawit, atau Sahang (Lada), bagi seorang media analis akan panen data, termasuk status Facebook, Twitter, dan Instagram. Dengan kata lain, semakin banyak kita berkomentar di media sosial, semakin banyak dan beragam pula data yang dimiliki oleh perusahaan. Oleh perusahaan data-data itu kemudian diperjualbelikan kepada klien-klien. Klien itu boleh jadi pemerintah pusat maupun daerah, perusahaan dan orang-orang yang berkepentingan dengan data media. Misalnya politisi saat musim kampanye tiba. Mereka perlu data untuk apa? Terutama untuk bisa “ngomong”. Mereka sadar betul kalau ngomong tidak pakai “data”, rentan dinilai sebagai penyebar cerita bohong, lebih parahnya lagi akan berakhir di jeruji. Akhir-akhir ini, kesadaran akan kebutuhan data kian bertumbuh, perusahan Bigdata pun bertambah subur. Data-data media berpeluang menjadi tulang punggung dalam obrolan kita sehari-hari.

Sebagian besar kita tentu memiliki TV. Pemberitaan di TV (media pada umumnya) itu tidak netral. Apa kata TV (media pada umumnya) bergantung atas kepentingan pemilik perusahaan itu sendiri. Paling mudah kita amati di musim kampanye. Pemberitaan di TV seperti terbagi ke dalam dua kubu. Pilihan politik para pemilik statsiun TV tampak tidak malu-malu lagi menunjukkan kecenderungan pemberitaan TV mereka pada salah satu calon presiden. Selain itu, lewat pengalaman menonton, kita berjumpa dengan iklan-iklan. Mulai dari iklan pembersih rambut sampai perawatan kaki. Iklan menawarkan gaya hidup tertentu agar kita tergoda untuk membeli, membeli, dan terus membeli. Iklan pertama-tama adalah soal menjual barang, tapi sadar atau tidak, ikut mendikte gaya hidup kita sehari-hari. Misalnya, wajah mu akan cerah merona bila memakai produk ini, tubuh mu bebas kuman bila memakai ini, atau otak anak mu akan cerdas bila minum susu ini, dan begitu pola seterusnya. Lewat penawaran tiada henti itu, iklan menciptakan standar-standar baru, yang kalau tidak hati-hati akan menyederhanakan pemikiran kita. Berbicara cerdas yang pertama-tama dilakukan adalah belajar bukan minum susu sapi. Realitas kabur semacam inilah yang harus kita sikapi.

Pernah pada suatu sore di sebuah warung, ada seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku SD datang bersama bapaknya. Anak itu merengek minta dibelikan minyak rambut, Pomade. Meski harga minyak rambut Pomade yang botolan itu lebih tinggi daripada harga se-kilogram beras, si bapak akhirnya membelikan Pomade demi anaknya. Kebetulan saya kenal betul keluarga sederhana ini sehingga berani mengatakan, “wah adik, kamu lebih takut dianggap ketinggalan zaman daripada kelaparan”. Ini baru soal rambut yang seringkali disepelekan, belum lagi soal pulsa dan kuota internet yang membuat pengeluaran membengkak. Menukik lebih dalam, kita hidup dengan segala konsekuensi yang dibawa oleh perkembangan media dan teknologi. Termasuk dalam soal penampilan sehari-hari, mungkin kita bisa tanyakan pada diri sendiri, jangan-jangan cara kita berpakaian, berdandan, sampai potongan rambut, boleh jadi hasil meniru artis idola atau model iklan di TV.

Telepon genggam (Smartphone) tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi (berkirim pesan semata) tetapi dengan alat itu orang bisa memperoleh informasi, mendapat uang (berjualan), mendapat pengikut, bermain game, sampai promosikan diri sendiri. Nikmatnya bermain media sosial diantaranya, orang dapat mengkondisikan apa saja yang ingin dilihat, didengar dan diketahui. Kalau di ruangan ini ada yang memiliki akun-akun media sosial, misalnya Facebook kita dapat amati seperti apa orang berlomba-lomba ingin terlihat; rupawan, kaya, berpengetahuan luas, religius dan seterusnya. Pendek kata, di media sosial orang bisa menjadi apa saja, yang kadang-kadang diikuti pula kebutuhan soal bagaimana orang ingin terlihat dan diakui oleh orang lain. Sekali lagi, nikmatnya bermain media sosial karena seolah-olah memampukan orang tunaikan kemauan yang belum tentu dapat ditunaikan dalam realitas kehidupan sehari-hari.

Lewat pengalaman di atas, kita diajak untuk melihat setidaknya seperti apa peran media dan teknologi dalam kehidupan kita sehari-hari. Media dan teknologi tidak hanya membentuk pandangan kita soal suatu peristiwa yang sedang terjadi, pelan-pelan tapi pasti mulai mengalihkan kelekatan kita dari lingkungan sekitar. Misalnya, orang yang mandi dan mencuci di sungai cenderung akan lebih memperhatikan kualitas air sungai, bahkan orang bisa kena hukum adat bila sengaja mengotori sungai. Namun, apa yang terjadi hari ini, kita mulai bergantung dengan mesin-mesin daripada alam.

Di kebun paling tidak orang membutuhkan radio atau mp3 sebagai hiburan di antara suara jangkrik dan burung. Sehari-hari kita pun lebih banyak mendengar orang mengeluh soal listrik padam daripada udara panas yang disebabkan menipisnya hutan lindung. Bila listrik padam, otomatis orang kesulitan memasak nasi, tidak dapat menonton atau mengecas HP/laptop. Orang lebih takut listrik padam, boleh jadi sudah tidak terbiasa harus mandi dan mencuci  di sungai (jangan-jangan kita memang sudah tidak punya sungai yang layak). Orang takut listrik padam karena tidak mendapatkan informasi dan hiburan yang mampu mengalihkan perhatiannya sejenak dari persoalan rumput di kebun, biaya sekolah anak, dan masalah rutinitas lainnya.

Saat ini, kita tidak dapat hidup tanpa media dan teknologi. Tidak pula kembali bernostalgia. Bila ada warga gereja, warga negara, cepat atau lambat kita akan beralih menjadi warga media dan teknologi. Salah satu keunggulan media dan teknologi adalah menawarkan pengalaman yang serba cepat. Seperti yang kita rasakan saat berkirim pesan atau telepon. Bahkan kita tidak butuh waktu yang lama untuk menghidupkan atau mengganti saluran TV. Seperti makanan siap saji, misalnya Indomie. Kita cukup memanaskan air dan memasukan mie, makanan pun siap disantap. Apa yang mau dilunturkan dari aktivitas memasak mie adalah prosesnya. Membuat proses sesingkat-singkatnya inilah yang menjadi jantung kerja media dan teknologi. Kita tidak perlu repot-repot dan menunggu waktu lama, bahkan kalau ada mesin pengasuh anak, mungkin akan laris dibeli oleh ibu-ibu rumah tangga. Kalau tidak hati-hati kondisi itu berpotensi membentuk mental asal tahu beres. Berapa banyak dari kita yang saat anaknya pulang dari sekolah akan bertanya, tadi dapat nilai berapa? Kalau anak mendapat nilai rendah kita langsung menghakimi anak itu bodoh tanpa terlebih dahulu mau tahu bagaimana proses mereka belajar. Atau saat pembagian rapot, biasanya para orang tua pertama kali akan menanyakan, dapat rangking berapa? Mengapa yang diutamakan adalah hasil? Bila sebagai orang tua kita lebih mementingkan hasil dibandingkan proses, jangan heran bila suatu hari anak kita akan menempuh jalan pintas (menyontek) demi memperoleh nilai yang tinggi. Bukankah jalan pintas semacam itu yang dilalui oleh seorang koruptor?

Malay Bukan, Indon Setengah-setengah.

“Apakah gunanya pendidikan bila hanya membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?”
WS . Rendra

Pengetahuan itu tidak netral. Menurut Apple (1993) teks-teks pembelajaran yang sampai ke tangan guru dan siswa di kelas tidak terlepas dari proses pemilihan yang dilakukan oleh penguasa. Apa yang dipelajari (ditanamkan dan dipelihara) lewat lembaga pendidikan dikemas agar tidak berseberangan dengan ideologi penguasa. Itu mengapa penting menelusuri wacana dalam lembaga pendidikan yang direproduksi terus menerus.

Tulisan sederhana ini masih terlalu dini untuk menyoroti pengajaran nasionalisme di lembaga pendidikan sebagai upaya pencarian model pendidikan yang kontekstual dengan kondisi masyarakat di perbatasan. Namun, sebagai pijakan awal, tulisan ini mau menggarisbawahi bahwa wacana nasionalisme yang kaku berpontesi membuat guru-guru di perbatasan tidak lebih dari sebuah robot yang tidak dapat berbicara atas nama pengalaman mereka. Celakanya lagi sistem pendidikan semacam itu hanya mampu menghasilkan alien-alien.

Berbicara tentang guru, tidak ada pengalaman yang lebih dekat dan lebih kongkret kecuali pengalaman bersentuhan dengan lembaga pendidikan. Saya menempuh S1 jurusan pendidikan sejarah disalah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Ketika itu dosen saya pernah mengatakan kalau guru sejarah harus menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada mitra didik. Ternyata pernyataan itu bukan sekedar angin lalu karena sering pula di kelas setiap mahasiswa diminta memetik apa yang sudah dipelajari ke dalam bentuk nilai-nilai seperti nasionalisme.

 Pernyataan dosen tersebut juga saya temukan dalam tulisan A. Daliman lewat tulisannya, Guru Sebagai Panutan Nilai: Suatu Studi Mengenai Peranan Guru Sejarah Sebagai Sumber Nilai-nilai Nasionalisme.[1] Bahwa tugas seorang guru sejarah termasuk mengurusi sikap-sikap mitra didik agar tidak menyimpang dari agenda nasional. Saat itu saya tidak dapat membayangkan kalau kalau harus mengajar sesuai amanat tersebut, semacam ada sekat-sekat yang membuat saya tidak dapat menerima begitu saja. Setelah kuliah S1, saya dilema teruskan karir menjadi guru sejarah.

  Pelajaran sejarah dalam kadar ini boleh jadi lahan basah untuk “melatih” bentuk nasionalisme resmi. Dengan kata lain, pelajaran sejarah menjadi bagian dari pembentukan identitas kolektif. Catherine Doherty (2004), menunjukkan tendensi pelajaran sejarah mengundang mitra didik untuk mengadopsi sebuah sudut pandang tertentu, mempromosikan identitas kolektif dan mencetak para calon nasionalis.

Mengapa tidak menjadi guru? Lowongan guru di daerah pasti masih terbuka lebar? Apa yang teman saya katakan itu memang demikian adanya. Kuantitas dan kualitas pendidikan di perbatasan masih memprihatinkan, tetapi pertanyaannya apakah saya akan mereproduksi materi yang asing dari persoalan masyarakat perbatasan? Pertanyaan ini kembali mengerutkan hati untuk menjadi guru. Namun, pertanyaan soal kenapa tidak menjadi guru terus menerus mengusik saya. Bahkan seorang teman menawarkan untuk menjadi guru di Jakarta, tawaran itu menyisakan pertanyaan kembali, apa yang saya alami tidak mereka alami dan begitu pula sebaliknya. Saya pernah mengajar di salah satu SMA swasta di Yogyakarta. Pengalaman mengajar itu mau tak mau saya lakukan sebagai kewajiban mahasiswa pendidikan. Selama tiga bulan saya harus berjarak dengan diri sendiri. Ada kekhawatiran bagaimana kalau mitra didik tahu soal kehidupan saya di kampung halaman. Bukankah realitas itu kemudian dapat menegasi apa yang saya ajarkan di kelas? Saya pun ingin cepat-cepat menyelesaikan misi di sekolah.

Karir menjadi guru sejarah waktu itu memposisikan saya sebagai alien di kampung sendiri dan di tempat lain. Pandangan tentang guru sejarah yang ikut mengurusi persoalan nasionalisme mitra didik benar-benar menjadikan saya seperti robot. Saya tidak dapat berbicara atas nama orang yang lahir dan tumbuh di perbatasan melainkan hanya membebek buku-buku teks.

 “Malay bukan, Indon setengah-setengah”. Identifikasi semacam ini sering digunakan untuk menjelaskan praktik hidup orang di perbatasan. Identifikasi yang kabur tentang orang di perbatasan memengaruhi kemudian bagaimana mereka harus dipandang, diposisikan dan diperlakukan. Yang sering terjadi justru mereka diperlakukan seolah-olah pantas dicurigai, dimatai-matai bahkan lahan basah dari proyek-proyek beragenda nasional. Kerangka nasionalisme yang kaku punya potensi mengkastrasi orang di perbatasan dari akar kehidupannya, tumpah dari kategori kita (Indonesia) tapi bukan pula mereka (Malaysia).

Setidaknya menurut Bauman (1998) terdapat dua tipe dari manusia di era modern cair yaitu, tourist dan vagabonds.“Vagabond is the alter ego of the tourist” (Bauman, 1998). Kedua tipe ini saling terkait satu sama lain. Menurut Bagus Laksana (2013) Vagabonds atau pengembara terus-menerus ingin menjadi orang asing dan tidak memiliki komitmen pada sesuatu yang stabil seperti rumah atau tanah air dengan kata lain, mereka tidak punya kesadaran untuk menjadi warga (citizen). Sedangkanpelancong atau tourist adalah mereka yang terobsesi dengan pengalaman baru. Meski lebih punya ikatan dengan rumah dan tanah air dibanding pengembara, tetapi perhatian mereka pada tempat-tempat lain, rumah dan tanah air sebagai safety package yang lebih untuk menyokong kebutuhan pribadi (keamanan).

Pengkategorian manusia modern al a Bauman di atas tidak serta merta dapat mengidentifikasi orang di perbatasan. Bauman mengakar pada masyarakat konsumsi yang serba instan dan individualistis. Tipe mental turis dan vagabonds dapat dipahami sebagai konsekuensi dari era modern cair, teritorial yang jelas batas-batasnya tidak otomatis mendefinisikan warga yang menempatinya. Mobilitas menggejala, area menjadi tempat pertemuan orang-orang asing yang tetap menjadi asing. Pertemuan tanpa masa lalu dan sering kali tanpa masa depan.

Praktik melintas batas orang di perbatasan seusia dengan batas teritorial. Sejarah praktik melintas batas bisa sama tuanya dengan sejarah berdirinya suatu negara bangsa. Salah satu ciri dari negara modern (Pierson, 1996) adalah teritorial yang jelas batas-batasnya. Kedaulatan berdasarkan teritorial. Teritorial adalah wilayah negara yang sudah didefinisi secara hukum, di mana batas-batas yang membedakan negara yang satu dengan negara yang lain jelas dan legal dimata hukum. Teritorial mengasumsikan persoalan ruang sudah selesai. Ruang dilihat secara hitam dan putih, legal dan illegal sebagaimana yang digambarkan oleh Wadley (2005) teritorialitas adalah kondisi di mana individu atau kelompok mengontrol orang-orang, relasi, dan menegaskan kembali kondisi geografisnya lewat batas-batas yang mereka cipta.

 Menurut Wadley (2005) batas teritorial yang dibayangkan antara komunitas lokal dengan negara berbeda. Batas yang dimaksudkan oleh masyarakat lokal biasanya batas-batas alam seperti, sungai, batu, dan hutan dan biasanya diperlakukan secara fleksibel sedangkan batas dalam bayangan negara itu tetap, kaku, seperti kartografi dan biasanya ada pengawasan militer. Batas-batas yang dibangun diandaikan mampu membatasi gerak warga, negara memiliki otoritas untuk mengawasi batas-batas teritorial, termasuk mengawasi orang-orang yang ulang-alik di perbatasan.

Perbatasan sepanjang 2.004 km antara Indonesia dengan Malaysia di pulau Borneo adalah rekaan kolonial Belanda-Inggris. Batas yang kita kenal saat ini tidak hadir secara alami melainkan melalui proses penyeleksian yang kental dengan campur tangan kepentingan kolonial. Batas-batas teritorial itu dikonstruksi dan menunjukkan obsesi penguasa; gambaran mental dari politisi, pengacara, dan intelektual. Pemerintah kolonial membangun batas untuk mengendalikan elemen-elemen yang dianggap undesirable (Eilenberg, 2012).

  Praktik melintas batas dalam gerak sejarah dianggap sebagai sesuatu yang tabu karena dapat menganggu pengawasan pemerintah kolonial. Begitu batas selesai didefinisi, warga dikutuk untuk hidup menetap. Di pihak lain, orang di perbatasan harus menanggung “dosa” sebagai konsekuensi atas rekaan batas teritorial versi kolonial. Masyarakat dayak Jagoi sebagai salah satu dari beberapa masyarakat lokal yang kini memiliki ikatan kultural melampaui batas teritorial. Praktik melintas batas dalam kadar ini tidak identik dengan kecenderungan memiliki loyalitas ganda apalagi berkewargaan ganda. Sejarah orang di perbatasan dapat ditempatkan sebagai sekumpulan orang-orang yang bertahan hidup dengan cara melintas batas. Suatu cara hidup yang hampir absen dari narasi besar manusia Indonesia dengan segala bentuk keberagamannya.

Referensi

Bagus Laksana. 2013. Manusia Tanpa Sekat: Inspirasi Driyarkara dan Tantangan Pendidikan Universitas dalam Dunia Serba Cair. Yogyarkarta. USD

Bauman, Zygmunt. 1998. Globalization: The Human Consequences. UK: Blackwell

————————. 2000. Liquid Modernity. UK: Blackwell

Eilenberg, Michael. 2012. At the Edges of State in the Indonesian Borderlands. Leiden: KITLV Press

Pierson, Christopher. 1996. The Modern State: Second Edition. London:Routledge

Jurnal

A.Daliman. Guru Sebagai Panutan Nilai: Suatu Studi Mengenai Peranan Guru Sejarah Sebagai Sumber Nilai-nilai Nasionalisme. Jurnal Kependidikan, nomor 1 tahun XXI Mei 1991.

Michael W. Apple. The Politics of Official Knowledge: Does a National Curriculum Make Sense? Teachers College Record Volume 95, Number 2, Winter 1993. Columbia University.

Doherty, Catherine. Re-imagining and re-imaging the nation through the history curriculum. In: Proceedings of : Changing climates : Education for sustainable futures, the Australian Association for Research in Education (AARE 2008) Conference, 30 November 4 December, 2008, Queensland University of Technology, Brisbane.


[1] A.Daliman. Guru Sebagai Panutan Nilai: Suatu Studi Mengenai Peranan Guru Sejarah Sebagai Sumber Nilai-nilai Nasionalisme. Jurnal Kependidikan, nomor 1 tahun XXI Mei 1991.

Imlek di Bengkayang

Aku bukan seorang Tionghoa, bukan pula pemerhati budaya Tionghoa. Ini sekedar pengalaman tumbuh di tengah masyarakat Tionghoa

image

(Tulisan ini dilatari situasi toko-toko di pasar Bengkayang yang sudah tutup sejak H-1 dan katanya akan normal kembali setelah Cap Go Meh. Setengah bulan Bengkayang akan menjadi kota lumpuh, mungkin mati? Mengantisipasi kondisi itu, orang-orang jauh hari sudah menumpuk sembako di rumahnya masing-masing. Termasuk yang aku lakukan dengan membeli kuota internet)

Perayaan Imlek kental dengan pesta kembang api dan lampion-lampion merah menyala yang menghiasi sepanjang jalan. Detik-detik pergantian tahun selalu ditandai dengan pemasangan kembang api sampai menjelang fajar. Malam itu kamu tidak akan benar-benar bisa tidur nyenyak, kecuali kamu adalah orang yang bodo amat. Sementara pagi harinya, penampakan sampah-sampah kembang api bertebaran di mana-mana namun panitia Imlek sepertinya sudah menyiapkan tim kebersihan selama perayaan Imlek dan Cap Go Meh.

image

Perayaan Imlek atau sering disebut Konyan terbuka untuk keluarga, teman, dan tetangga. Se-kembali mereka dari Tepekong (rumah ibadah) yang biasanya jam 08.00 pagi, mereka pun siap menyambut para tamu. Seperti halnya Lebaran atau Natal, mereka menyediakan kue dan minuman untuk menjamu para tamu, termasuk hidangan makanan dengan menu utama daging babi. Kalau ini rasanya kayak gawai dayak, karena bagi orang dayak belum sah gawai kalau belum menghidangkan makan besar dan itu berlaku disetiap rumah yang kita kunjungi.

image

image

Pengalaman Konyan yang ku rasakan di Bengkayang berbeda pula di Yogyakarta. Seperti pepatah “lain ladang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya”. Di Bengkayang, orang Tionghoa bebas mengekspresikan budayanya lewat berbagai upacara-upacara adat. Bahkan masih dijumpai orang-orang Tionghoa yang tidak biasa memakai bahasa Indonesia namun tidak menjadi persoalan serius apalagi politis. Semacam ada logika ruang yang terbentuk baik lewat pengalaman bersama dimasa lalu maupun kondisi geografis-sosial sehingga membedakan kedua tempat tersebut.

Membicarakan masa lalu orang Tionghoa di Bengkayang tidak jauh-jauh dari riwayat pertambangan emas. Bengkayang dikenal dengan bumi emas (dua desa di Bengkayang saat ini menggunakan nama Bumi Emas dan Mani Amas) karena tanahnya mengandung unsur emas. Emas kala itu menjadi mata pencarian orang Tionghoa. Wilayah Monterado (saat ini bagian dari Kabupaten Bengkayang) adalah saksi bisu dari pendirian kongsi dagang yang dikelola orang Tionghoa selama seabad namun kemudian luluh lantak oleh kolonial. Orang Tionghoa di Bengkayang kebanyakan berasal dari Singkawang. Bengkayang terletak di Selatan kota Singkawang dengan jarak tempuh yang kurang lebih dua jam. Sementara Singkawang yang dikenal dengan Chinatown juga bermula dari pertambangan emas sejak Sultan Sambas mengundang mereka bekerja di tambangnya dua abad yang lalu.

Tubuh dan Perspektif

art-back-view-black-573294.jpg

“Tubuh saya adalah pandangan saya mengenai dunia”.

Merleau Ponty

Pengalaman berpakaian adalah pengalaman kebertubuhan yang paling mudah kita kenali. Berpakaian dengan gaya tertentu untuk acara yang tertentu. Macam-macam cara berpakaian misalnya, pesta, sekolah, tidur, ngemall, dan ibadah. Dari berbagai pengalaman itu, berpakaian saat ibadah menjadi yang paling sering diomongkan. Hampir semua agama memiliki kriteria-kriteria pakaian untuk beribadah. Pakaian apa untuk agama apa.

Manuel Vasques (2011) memposisikan tubuh religius sebagai artefak sosial yang merupakan perwujudan dari perlombaan teks-teks suci. Tubuh erat kaitannya dengan praktik keagamaan yang tidak lain adalah hasil dari konstruksi sosial. Dengan kata lain, cara berpakaian dibuat berdasarkan kategori sosial, seperti soal tentang mana yang pantas atau tidak.

Bermula karena studi lapangan. Saya alumni mahasiswa Pendidikan Sejarah. Setiap semester mahasiwa diwajibkan mengikuti studi lapangan. Tempat-tempat yang dikunjungi tidak jarang adalah tempat sejarah suatu agama, baik Hindu, Budha, sampai dengan Islam. Setiap kali mendatangi situs-situs yang juga dianggap suci oleh suatu agama tertentu, kami diwajibkan berpakaian seperti pengikut agama tersebut. Ada jenis-jenis pakaian tertentu yang dianggap tidak pantas dipakai saat mengunjungi suatu situs, misalnya dilarang menggunakan celana atau rok di atas lutut, baju yang tidak berlengan, sampai dilarang menggunakan alas kaki. Tidak hanya itu, ruang laki-laki dan perempuan pun dibedakan, bahkan perempuan yang sedang menstruasi dilarang memasuki suatu area yang dianggap suci. Berbagai aturan yang kami ikuti itu, kebetulan bukan mayoritas agama yang kami anut. Akan tetapi, lewat aturan berpakaian itu, kami dan orang-orang yang berada di situs seolah-olah tampak sama (dari segi pakaian).

Thomas Tweed (2008) menyatakan, agama menentukan lokasi sosial, menandai tempat dan membangun identitas koletif. Misalnya sebagai penentu lokasi sosial, agama membedakan area laki-laki dan perempuan, sementara itu, agama juga menandai tempat misalnya hanya arah inilah kamu berdoa, atau tidak jalan-jalan jauh pada hari sabat. Selain itu, agama juga membedakan kita dengan mereka, misalnya tandai tubuh mu dengan tanah liat setiap pagi, tempatkan ini di ambang pintu rumah mu untuk memberi isyarat siapa kamu, atau jangan memakan daging, dan ketika kamu tidur hanya dengan orang ini (Tweed, 2008). Agama menandai tempatnya melalui hal-hal sebagai berikut: terrestrial, membangun “kediamannya” di berbagai wilayah belahan bumi. Corporeal, menandai “kediamannya” atas tubuh-tubuh para penganutnya sebagai identitas kolektif. Cosmic, membangun kediamannya di alam semesta, hal ini terkait dengan tawaran agama yang memberi solusi setelah kematian atau dalam istilah Tweed disebut sebagai horizon ultimate (2008).

Pengalaman saya saat studi lapangan adalah bagian dari proses agama menandai tubuh. Mengatur mana yang pantas dan tidak untuk beribadah. Dalam konteks ini agama tidak hanya menyoal pengalaman spiritual tetapi juga tubuh penganutnya.

Referensi

Tweed, Thomas. 2008. Crossing and Dwelling: A Theory of Religion. Harvad University Press.

Vasques, Manuel. 2010. More Than Belief: A Materialist Theory of Religion. Oxford University Press

Merleau-Ponty: Intensionalitas Pengalaman dan persepsi. Filsafat, Edisi 03-04, Tahun-63, Basis.